Selasa, 30 November 2021

Kisah Inspiratif (Anak Juga Ingin Dimengerti)


https://satuguru.id/ 

Kisah Inspiratif

( Anak juga Ingin Dimengerti )       

        Tanggal 25 Nopember selalu istimewa untuk dikenang dan direnungkan. Eksistensi seorang guru dipertaruhkan. Jadi teringat akan peristiwa silam , saat aktif mengajar di kelas. Dalam perjalanan saya menjadi guru , ada banyak peristiwa mengharu biru , menarik , menginspirasi dan tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup. Lika liku yang menyenangkan     maupun batu sandungan yang melecut semangat saya sebagai guru teruji. Saya adalah seorang guru di Sekolah Sembada  ( Sekolah disamarkan ) Kabupaten Sleman Yogyakarta, sebelum akhirnya saya diangkat menjadi Kepala Sekolah . Selama menjadi guru hampir selalu saya ditempatkan di kelas istimewa dimana berisi anak – anak yang membutuhkan perhatian lebih. Sekolah Sembada menerapkan grade dalam menentukan kelas. Kebetulan ada 4 kelas parallel, jadi masing – masing  kelas terdiri dari 4 paralel dengan katagori / grade  A  ( untuk anak – anak berkemampuan lebih ), B ( Bisa tapi belum istimewa), C ( Kemampuan rata – rata ), D ( Kurang dan perlu pendampingan khusus ). Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penanganan dan pelayanan. Nach hampir selalu saya ditempatkan di kelas C ataupun D. Saya kurang tahu , apa pertimbangan Kepala Sekolah, tetapi saya selalu berprinsip , dimanapun dan dalam kondisi apapun saya akan berusaha berikan yang terbaik yang saya miliki. Dan ini merupakan sebuah amanah yang harus saya jalankan.

 Dan kali ini saya mengambil salah satu pengalaman menarik dari proses perjalanan mengajar anak – anak istimewa tersebut. Saya tidak pernah menyebut mereka anak – anak yang kurang ataupun bodoh , tetapi saya menyebutnya anak – anak istimewa. Saya memiliki siswa yang bernama Faris ( disamarkan ), anaknya luar biasa aktif artinya dia selalu usil dan hampir selalu membuat temannya menangis , kemampuan akademik rendah , pemahaman bahasa rendah dan karakter sikap memprihatinkan. Ibarat makanan dia adalah paket komplit. Maaf , ya nakal, ya bodo, nggak sopan dan atribut – atribut negative hampir semua melekat pada dirinya ( Maaf, saya agak kurang sreg dengan lebel – lebel tersebut, tapi demi lebih memahamkan saya tulis apa adanya ). Hampir semua temannya tidak suka, semua guru tidak respek bahkan hampir semua wali murid menghendaki anak ini dikeluarkan dan meminta anak – anaknya tidak berteman dengannya. Saya begitu miris dan prihatin dengan kondisi ini, karena saya yakin anak jadi seperti ini pasti bukan karena serta merta keinginan dia. Bisa jadi karena campur tangan orang dewasa, termasuk kita.


Mulailah saya mencari tahu, ada apa dengan anak ini. Saya mencoba komunikasi dengan orang tuanya, dan ternyata sangat jauh dari harapan saya . Tidak ada pembelaan sedikitpun dari orang tua bahkan mereka dengan lugas mengatakan  ,“ Saya sudah angkat tangan bund dengan anak ini , susah dikasih tahu , bandel , ngeyel dan mau menang sendiri, terserah bunda mau ngapain anak saya, asal jangan dikeluarkan, karena pasti tidak ada yang mau menerima”.

Dalam hati saya marah pada orang tuanya, kenapa mereka seperti itu. Dan trenyuh dengan nasib Faris kedepan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengadakan pendekatan personal dengan Faris. Karena saya yakin anak ini pasti bisa berubah, hanya kesempatan berubah yang tidak dia dapatkan. Mulai saya adakan pendekatan dengannya, meski sebatas menanyakan bangun jam berapa, makan sama apa dan cerita – cerita kecil yang dia alami selama ini. Awalnya dia malas menjawab, karena memang selama ini tidak ada yang mau berteman dengannya, guru – gurupun seakan menghindari bermasalah dengannya. Karena memang dia sering emosi dan marah – marah jika tersinggung.Saya mulai libatkan dia dalam semua aktifitas saya. Mulai dari menghapus papan tulis, membawakan tas dan memanggil guru yang akan mengajar. Kebetulan mau ada ulangan Harian , selama ini dia hampir tertinggal semua pelajaran . Padahal kalau menurut penilaian saya , dia bukan termasuk anak yang bodoh sekali. Maka saya berinisiatif mohon ijin kepada orang tuanya untuk mengantarkan Faris ke rumah setiap sore.

Dan hari itu , kamis sebagai awal dari kedekatan – kedekatan emosional saya dengannya. Rumah saya kebetulan dekat dengan kebun Anggrek dan juga pasar maupun infrastruktur lainnya. Saat dia datang langsung saya ajak Faris jalan – jalan ke kebun Anggrek, karena saya tahu kalau langsung masuk materi dia pasti akan menolak bahkan berontak. Terjadilah percakapan -percakapan kecil .

“ Mas Faris , selama ini paling dekat dengan siapa kalau di rumah ?”. tanya saya.

 “ Nggak tahu”, jawabnya.  “ Lah , kalau bobok sama siapa ?”, cecar saya.

“ Ya nggak tahu”, dia masih menjawab dengan hal yang sama. Tanpa ekspresi.

“ Mas Faris , jalan – jalan seperti ini suka nggak ?” , tanya saya kembali.

“ Suka sekali, tapi tidak ada yang mau mengajak jalan – jalan”, jawabnya dengan ekspresi yang mulai berbeda. “ Oke kalau mas Faris suka, besok ke tempat bunda sebelum belajar kita jalan – jalan dulu ya, mau nggak ?”, dan diapun langsung sigap menjawab dengan ceria” Mau bunda, tapi jangan bohong ya, besok Faris boleh ke tempat bunda lagi ?” tanyanya. “Boleh donk, Bunda suka sekali ditemani mas Faris, tapi setelah itu kita belajar ya !”, Saya mulai merasakan antusiasnya. Dan alhamdulillah akhirnya kamipun mulai ada keterdekatan , dan sejak saat itu Faris rajin ke rumah , mau membaca, mengerjakan tugas, dan tingkat emosionalnya relative menurun. Penampilannya mulai rapi karena semangatnya ke sekolah mulai muncul . Setiap ke rumah selalu ada cerita dari dia, tanpa harus saya mengorek . Saya simpulkan dari cerita- ceritanya adalah , bahwa anak ini anak korban broken home, orang tuanya bercerai , dia selalu menyaksikan pertengkaran orang tuanya, maka wajar kalau akhirnya dia praktekkan semua yang dia lihat dengan cara membuat ulah di sekolah, menyakiti teman – temannya sampai menangis, berkata kotor dan teriak – teriak sama guru. Masyaallah , anak yang luar biasa, masih kecil harus sudah melalui masa – masa yang sangat berat . Nach kita sebagai orang yang lebih tua harus belajar memahami segala keinginan dan kegalauannya. Dan dengan pendekatan – pendekatan emosi keibuan , memberikan kenyamanan kepadanya, kepercayaan bahwa dia mampu dan juga keteladanan perlahan tapi pasti dia mulai menjadi sosok anak yang bisa diterima oleh teman – temannya , bukan lagi tukang usil tapi anak penolong yang siap membantu temannya jika ada yang membutuhkan bantuannya, sopan kepada guru dan kata – kata kotor yang selama ini melekat pada dirinya mulai berangsur hilang.

            Dia selalu menganggap saya sebagai bundanya layaknya bunda yang telah melahirkannya. Setiap pulang dia selalu menunggu sampai  saya keluar gerbang sekolah hanya karena ingin menyapa , “ Bunda, terimakasih ya…bunda sehat biar besok Faris bisa membawakan tasnya bunda, dan tak lupa mencium tangan saya tanda perpisahan “.

Entah kenapa , dada selalu berdegup kencang setiap Faris mencium tangan sambil mengucapkan kalimat tersebut. Rasa sayang yang teramat sangat sudah merasuk di hati.

Dan lambat laun nilai akademiknyapun terangkat dan semakin membaik. Tak segan dia bertanya kepada guru ketika dia merasa kesulitan, yang selama tidak pernah ditemukan oleh guru pada dirinya. Jangankan bertanya, ditanya saja tidak pernah mau menjawab. Setiap tugas yang diberikannya dikerjakan dengan ogah – ogahan dan asal menjawab. Nilai jelek sudah biasa dia terima,  dimarahi orang tua dan gurupun sudah menjadi hal yang biasa. Tetapi karena perubahan sikapnya , maka semakin banyak guru yang respek dan simpati. Lebel anak nakal , anak bodoh , tidak sopan dan lebel – lebel negative yang lainnya mulai bergeser dari dirinya. Betapa bahagianya saya , setiap melihat senyumnya saya flashback beberapa waktu lalu dimana hampir tidak ada senyum atau keceriaan dari wajahnya. Hasil memang tidak pernah mengkhianati usaha. Meski awalnya saya menghadapi cemoohan bahkan cibiran terhadap apa yang saya lakukan.

 

Pembelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman ini adalah :

1.     🌴 Semua guru harus siap menghadapi siswa dengan kondisi apapun.

2.    🌴  Jangan pernah memberi lebel – lebel negative kepada siswa , karena akan berdampak tidak baik bagi kondisi psikologisnya.

3.   🌴   Semua guru harus siap kreatif dan berinovasi terhadap setiap masalah.

4.   🌴 Cintai pekerjaan dengan totalitas

5.   🌴   Berikan seluruh energi  terbaik yang kita miliki untuk memberikan layanan kepada siswa atau instansi tempat kita bernaung

 

 


    Rindu saat - saat seperti ini ...meski saat ini belaian kasih sayang harus terhalang ...tapi cinta tulus tak kan tergantikan oleh apapun....salam tangguh guru Indonesia.

Yogyakarta , 30 Nopember 2021
Nur Hayati  ( Jenk Noenk )


Kisah Inspiratif (Anak Juga Ingin Dimengerti)

https://satuguru.id/  Kisah Inspiratif ( Anak juga Ingin Dimengerti )                  Tanggal 25 Nopember selalu istimewa untuk dikenang ...