https://satuguru.id/
Kisah Inspiratif
( Anak juga Ingin Dimengerti )
Dan kali ini saya mengambil salah satu pengalaman menarik dari proses perjalanan mengajar anak – anak istimewa tersebut. Saya tidak pernah menyebut mereka anak – anak yang kurang ataupun bodoh , tetapi saya menyebutnya anak – anak istimewa. Saya memiliki siswa yang bernama Faris ( disamarkan ), anaknya luar biasa aktif artinya dia selalu usil dan hampir selalu membuat temannya menangis , kemampuan akademik rendah , pemahaman bahasa rendah dan karakter sikap memprihatinkan. Ibarat makanan dia adalah paket komplit. Maaf , ya nakal, ya bodo, nggak sopan dan atribut – atribut negative hampir semua melekat pada dirinya ( Maaf, saya agak kurang sreg dengan lebel – lebel tersebut, tapi demi lebih memahamkan saya tulis apa adanya ). Hampir semua temannya tidak suka, semua guru tidak respek bahkan hampir semua wali murid menghendaki anak ini dikeluarkan dan meminta anak – anaknya tidak berteman dengannya. Saya begitu miris dan prihatin dengan kondisi ini, karena saya yakin anak jadi seperti ini pasti bukan karena serta merta keinginan dia. Bisa jadi karena campur tangan orang dewasa, termasuk kita.
Mulailah
saya mencari tahu, ada apa dengan anak ini. Saya mencoba komunikasi dengan
orang tuanya, dan ternyata sangat jauh dari harapan saya . Tidak ada pembelaan
sedikitpun dari orang tua bahkan mereka dengan lugas mengatakan ,“ Saya sudah angkat tangan bund dengan anak
ini , susah dikasih tahu , bandel , ngeyel dan mau menang sendiri, terserah
bunda mau ngapain anak saya, asal jangan dikeluarkan, karena pasti tidak ada
yang mau menerima”.
Dalam
hati saya marah pada orang tuanya, kenapa mereka seperti itu. Dan trenyuh
dengan nasib Faris kedepan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengadakan
pendekatan personal dengan Faris. Karena saya yakin anak ini pasti bisa
berubah, hanya kesempatan berubah yang tidak dia dapatkan. Mulai saya adakan
pendekatan dengannya, meski sebatas menanyakan bangun jam berapa, makan sama
apa dan cerita – cerita kecil yang dia alami selama ini. Awalnya dia malas
menjawab, karena memang selama ini tidak ada yang mau berteman dengannya, guru
– gurupun seakan menghindari bermasalah dengannya. Karena memang dia sering
emosi dan marah – marah jika tersinggung.Saya mulai libatkan dia dalam semua
aktifitas saya. Mulai dari menghapus papan tulis, membawakan tas dan memanggil
guru yang akan mengajar. Kebetulan mau ada ulangan Harian , selama ini dia
hampir tertinggal semua pelajaran . Padahal kalau menurut penilaian saya , dia
bukan termasuk anak yang bodoh sekali. Maka saya berinisiatif mohon ijin kepada
orang tuanya untuk mengantarkan Faris ke rumah setiap sore.
Dan
hari itu , kamis sebagai awal dari kedekatan – kedekatan emosional saya
dengannya. Rumah saya kebetulan dekat dengan kebun Anggrek dan juga pasar
maupun infrastruktur lainnya. Saat dia datang langsung saya ajak Faris jalan –
jalan ke kebun Anggrek, karena saya tahu kalau langsung masuk materi dia pasti
akan menolak bahkan berontak. Terjadilah percakapan -percakapan kecil .
“
Mas Faris , selama ini paling dekat dengan siapa kalau di rumah ?”. tanya saya.
“ Nggak tahu”, jawabnya. “ Lah , kalau bobok sama siapa ?”, cecar saya.
“
Ya nggak tahu”, dia masih menjawab dengan hal yang sama. Tanpa ekspresi.
“
Mas Faris , jalan – jalan seperti ini suka nggak ?” , tanya saya kembali.
“
Suka sekali, tapi tidak ada yang mau mengajak jalan – jalan”, jawabnya dengan
ekspresi yang mulai berbeda. “ Oke kalau mas Faris suka, besok ke tempat bunda
sebelum belajar kita jalan – jalan dulu ya, mau nggak ?”, dan diapun langsung
sigap menjawab dengan ceria” Mau bunda, tapi jangan bohong ya, besok Faris
boleh ke tempat bunda lagi ?” tanyanya. “Boleh donk, Bunda suka sekali ditemani
mas Faris, tapi setelah itu kita belajar ya !”, Saya mulai merasakan
antusiasnya. Dan alhamdulillah akhirnya kamipun mulai ada keterdekatan , dan
sejak saat itu Faris rajin ke rumah , mau membaca, mengerjakan tugas, dan
tingkat emosionalnya relative menurun. Penampilannya mulai rapi karena
semangatnya ke sekolah mulai muncul . Setiap ke rumah selalu ada cerita dari
dia, tanpa harus saya mengorek . Saya simpulkan dari cerita- ceritanya adalah ,
bahwa anak ini anak korban broken home, orang tuanya bercerai , dia selalu
menyaksikan pertengkaran orang tuanya, maka wajar kalau akhirnya dia praktekkan
semua yang dia lihat dengan cara membuat ulah di sekolah, menyakiti teman –
temannya sampai menangis, berkata kotor dan teriak – teriak sama guru.
Masyaallah , anak yang luar biasa, masih kecil harus sudah melalui masa – masa
yang sangat berat . Nach kita sebagai orang yang lebih tua harus belajar
memahami segala keinginan dan kegalauannya. Dan dengan pendekatan – pendekatan
emosi keibuan , memberikan kenyamanan kepadanya, kepercayaan bahwa dia mampu
dan juga keteladanan perlahan tapi pasti dia mulai menjadi sosok anak yang bisa
diterima oleh teman – temannya , bukan lagi tukang usil tapi anak penolong yang
siap membantu temannya jika ada yang membutuhkan bantuannya, sopan kepada guru
dan kata – kata kotor yang selama ini melekat pada dirinya mulai berangsur
hilang.
Dia selalu menganggap saya sebagai
bundanya layaknya bunda yang telah melahirkannya. Setiap pulang dia selalu
menunggu sampai saya keluar gerbang
sekolah hanya karena ingin menyapa , “ Bunda, terimakasih ya…bunda sehat biar
besok Faris bisa membawakan tasnya bunda, dan tak lupa mencium tangan saya tanda
perpisahan “.
Entah
kenapa , dada selalu berdegup kencang setiap Faris mencium tangan sambil
mengucapkan kalimat tersebut. Rasa sayang yang teramat sangat sudah merasuk di
hati.
Dan
lambat laun nilai akademiknyapun terangkat dan semakin membaik. Tak segan dia
bertanya kepada guru ketika dia merasa kesulitan, yang selama tidak pernah
ditemukan oleh guru pada dirinya. Jangankan bertanya, ditanya saja tidak pernah
mau menjawab. Setiap tugas yang diberikannya dikerjakan dengan ogah – ogahan
dan asal menjawab. Nilai jelek sudah biasa dia terima, dimarahi orang tua dan gurupun sudah menjadi
hal yang biasa. Tetapi karena perubahan sikapnya , maka semakin banyak guru
yang respek dan simpati. Lebel anak nakal , anak bodoh , tidak sopan dan lebel
– lebel negative yang lainnya mulai bergeser dari dirinya. Betapa bahagianya
saya , setiap melihat senyumnya saya flashback beberapa waktu lalu dimana
hampir tidak ada senyum atau keceriaan dari wajahnya. Hasil memang tidak pernah
mengkhianati usaha. Meski awalnya saya menghadapi cemoohan bahkan cibiran
terhadap apa yang saya lakukan.
Pembelajaran
yang bisa dipetik dari pengalaman ini adalah :
1. 🌴 Semua
guru harus siap menghadapi siswa dengan kondisi apapun.
2. 🌴 Jangan
pernah memberi lebel – lebel negative kepada siswa , karena akan berdampak
tidak baik bagi kondisi psikologisnya.
3. 🌴 Semua
guru harus siap kreatif dan berinovasi terhadap setiap masalah.
4. 🌴 Cintai
pekerjaan dengan totalitas
5. 🌴 Berikan
seluruh energi terbaik yang kita miliki
untuk memberikan layanan kepada siswa atau instansi tempat kita bernaung